Korban Malpraktek Seorang Teknisi Gadungan


Advertisement


Mungkin ini adalah kejadian paling konyol yang pernah saya lakukan, saya sendiri menyebutnya korban malpraktek seorang teknisi gadungan. Mengapa saya sebut demikian? Karena memang saya ngaku-ngaku seorang teknisi komputer dan elektronika tapi secara formal saya tidak punya bukti-bukti yang lengkap hitam di atas putih akan hal tersebut.

Korban Malpraktek Seorang Teknisi Gadungan

Sebagai modal awal hanya ijazah SMK yang saya sendiri dulu tidak sempat mengambilnya, bukti lain? Pengalaman, ya kalau kita menjelaskan kepada seseorang kemudian dia menyanggah tentu saja predikat saya sebagai teknisi akan hancur. Karena kebanyakan orang lebih percaya pada bukti tertulis daripada pengalaman. Oh ya, mungkin 3 buah passport yang sekarang teronggok di lemari akan dapat memperkuat pengakuan saya sebagai seorang teknisi kalau suatu saat ada yang mempertanyakan.

Ok kita kembali ke topik, gimana ceritanya kog sampai terjadi malpraktek ini? Jadi begini, beberapa waktu yang lalu saya mendapat pekerjaan memperbaiki sebuah TV Samsung yang rusak, dan kerusakannya cukup membuat kepala saya seperti bertambah satu kilo beratnya.

Kemudian saya mengatakan kepada yang punya TV kalau kerusakan TV tersebut sudah parah, solusi terakhir dan terbaik menurut saya adalah ganti mesin dengan mesin TV yang baru. Tentu saja mesin baru harus membeli dengan harga sekitar 170 ribu. Yang punya TV tersebut adalah seorang kakek yang sudah tua, kemudian dia menyanggupi dan akan bilang sama anaknya dulu.

Eh ternyata kemarin, tetangganya menemui saya dengan membawa uang 200 ribu katanya disuruh si kakek untuk membelikan mesin TV sekalian memasang kerumahnya. Keesokan harinya setelah membawa mesin TV saya datang ke rumah si kakek, dengan gaya seorang profesional saya segera melakukan olah TKP.

Singkat cerita saya selesai memasang mesin TV kemudian saya hidupkan, dan jeng.. jeengg.. Ternyata kondisi TV tidak lebih baik daripada kemarin, artinya meskipun mesinnya sudah saya ganti dengan yang baru tapi masalah masih belum selesai.

Bagaimana ini? Wah.. predikat saya sebagai teknisi tingkat kampung bisa tercemar kalau begini.. Untung yang menyadari kejanggalan tersebut hanya saya seorang. Mereka yang pada melihat saya bekerja jelas tidak tau apa-apa, kemudian sekali lagi dengan gaya seorang profesional saya segera ber-diplomasi dengan si kakek. Bilang kalau ternyata selain mesin TV masih ada kerusakan lainnya yaitu pada bagian booster antena.

Dan dengan tidak mengurangi kharisma saya sebagai seorang teknisi, sayapun ngacir pergi ke toko elektronik membeli booster kemudian saya pasang. Akhirnya TV kembali menyala normal, maaf kakek - TV mu menjadi korban malpraktek teknisi gadungan.

Advertisement

{ 2 Comments... read them below or add one }

Seribu Pernak Pernik Ponsel Android said...

wkwkwkwkwk,,,, kasihan tv nya,,,wkwkwk

Habib said...

kamu kok berani posting.,

gag takut ketauan kakek atau anaknya

Post a Comment