Kisah Si Burung Pipit (Kelabu)


Advertisement
Pada kisah yang lalu sudah diceritakan bahwa si burung pipit jantan telah menemukan cintanya di padang rumput hijau yang juga tempatnya mencari makanan. Tapi ternyata cintanya harus kandas, kejadian tersebut juga membawa perubahan besar pada diri si pipit jantan, sehingga ia harus terbang jauh meninggalkan padang rumput hijau yang membawanya kesebuah dunia baru baginya, selengkapnya bisa dibaca disini: Kisah Si Burung Pipit (Ketika Cinta Menyapa, Salahkah?)



K E L A B U

Setengah terhuyung si pipit jantan melompat dari ranting kering ke dahan yang lebih rendah. Sudah semakin tandus saja benua ini, mencari makanan tidaklah semudah dulu, rumput-rumput menguning, daun-daun berguguran dan cuaca semakin panas. Entah apa yang akan terjadi dibenua ini, dimana si pipit jantan menggantungkan hidup setelah peristiwa padang rumput hijau dulu. Kini benua ini semakin kering.

Begitu juga pikiran si pipit jantan yang semakin tak menentu, disatu sisi ia menemukan banyak hal baru disini, tapi di sisi lain ia merasa semakin jauh terlempar dari dunianya, dunia seekor burung pipit yang sederhana. Benua ini seperti sudah membawa banyak perubahan pada diri si burung pipit, kini ia semakin malas untuk berkicau, ia lebih memilih bersenang-senang dengan burung-burung lain atau menghabiskan waktu untuk bermain Facebook. Tentu saja hal ini sudah menyimpang jauh dari kebiasaan seekor burung pipit. Dan kini si pipit jantan mulai menyadari hal itu, sehingga semakin memperkuat keinginannya untuk kembali ke kampung halamannya, padang rumput hijau.

Si pipit jantan gundah, pikirannya tak menentu, itu terlihat dari raut wajahnya yang murung dan bulu-bulunya yang kusut tak terawat. "Kalau nanti aku pulang dan bertemu si pipit betina, apakah penderitaan itu akan terulang kembali?" gumam si pipit jantan.

Ditengah lamunannya itu ia mendengar suara desisan halus, ia menoleh kesebelah kiri, "BUSET.. MATI AKU..!!" si pipit memekik. Tepat diranting sebelah kirinya melilit seekor ular berbisa dengan kepalanya yang mendongak siap mematuknya. Sang ular begitu dekat dengannya, secepat apapun si pipit terbang pasti tidak akan bisa lepas dari terkaman ular itu. Ditengah suasana yang menegangkan itu tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan kekar menyambar ular berbisa itu, begitu cepatnya hingga sang ular tak berkutik, dengan cengkeraman kaki dan paruh yang kekar ular itu dilumatnya. Ia adalah sang elang, teman baik si burung pipit jantan.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya sang elang sambil hinggap disebelah kiri si pipit jantan.
"Aku tidak apa-apa, terimakasih teman, kalau tadi kamu tidak datang, aku pasti sudah dimakan ular berbisa itu" jawab si pipit.
"Benua ini tidak aman untuk kita bangsa burung, dimana-mana banyak binatang buas, kamu harus berhati-hati, lagian tadi kamu ngelamun ya?" tanya sang elang.
"Aku tengah merenungi nasibku dibenua ini, rasanya aku juga ingin kembali kekampung halamanku, oh ya, besok pagi kamu jadi berangkat?"
"Jadi, sebelum matahari terbit aku akan mulai terbang ketempat asalku, selamat tinggal pipit, senang aku punya teman sepertimu"
"Hati-hati elang, perjalanan pulang pasti tidak mudah"

Selain si burung pipit jantan yang ingin pulang kekampung halamannya, ternyata sang elang juga berkeinginan sama, dan sang elang akan berangkat besok pagi-pagi sebelum matahati terbit.

Perjalanan pulang sang elang itu merupakan awal dari malapetaka yang menimpanya, ia tidak sadar kalau didepan sana ada bahaya besar yang sedang menanti.

                                                   __________________



* Bagaimana kisah si burung pipit selanjutnya? Tunggu ia hinggap diblog ini dan meneruskan ceritanya.
* Lalu bagaimana nasib sang elang yang sedang menghadapi bahaya besar itu? Sebenarnya kisah perjalanan pulang sang elang sudah saya tulis dalam versi kisah nyata yang berjudul Yanti. Dimana dikisahkan perjalanan pulang seorang pemuda yang sangat gembira karena dijemput kekasihnya (Yanti), tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama karena ternyata Tuhan berkehendak lain, kisah selengkapnya bisa dibaca disini: Yanti

Advertisement

{ 16 Comments... read them below or add one }

Gaphe said...

jadi pengen nunggu kelanjutan ceritanya... ayoo ayoo... segera yaa.. bagus soalnya cuplikan cerita si burung pipit.

Sukadi Brotoadmojo said...

Yang merantau kepingin pulang kampung ya Mas...he.he..

Ceritanya menarik, nggak boleh banyak melamun nanti bisa berbahaya, mendingan ngeblog aja untuk membuang lamunan he.he..
Ditunggu kelanjutan kisahnya Mas...

joanna said...

ceritanya menarik sekali..jadi penasaran nih..cepet2 yaa dilanjutin lagi :)

Imtikhan said...

salam sahabat
cerita yang bagus kawan

julicavero said...

burung pipitnya jantan apa betina ya??

pakeko said...

Hati-hati di perjalanan!

Om pomo said...

sy pikir burung pipit oleh mbak pipit

wahyu said...

asal jangan berubah dari pipit ke burung ....... ;)

Dwi said...

@ Gaphe: nunggu inspirasi dulu mas. :)

@ Sukadi Brotoadmojo: iya mas, curhat banget.. hhh..

@ Joanna: nanya si pipit-nya dulu mbak, mau ga dia cerita lagi.. :D

@ Imtikhan: iya kawan, terimakasih sahabat.

@ Julicavero: yang ini jantan mas, kalau yang itu betina.. :)

@ Pak Eko: injih Pak, pangestunipun.. :)

@ Om pomo: maksudnya..?

@ Wahyu: mudah-mudahan tidak mas.

k.o.s/Komunitas Online Sragen said...

mau lagi dong ceritanya..

BLOG-SANTAI said...

hebat ya burung pipitnya bisa pesbokan.. Hehe

YU^DY said...

aneh ya, kok burung elangnya berteman ama si burung pipit..

wits said...

ternyata di dunia ini memang tak ada yg sempurna. tak ada yg harus berjalan menurut rencana kita, semua sudah ada skenarionya. Manusia hanya menjalani apa yang telah digariskan. Pantas klo dikatakan klo dunia ini fana. Ilustrasi ceritanya menarik, seperti pengalaman pribadi yg dianalogikan, :)

Batara Emas said...

Di tunggu cerita Si "burung pipit" Selanjutnya

Masjid Kita said...

jangan selalu merenungi nasib seolah kita kurang bersyukur sama pemberian-Nya :(
maaf jika terkesan menggurui :(

Imtikhan said...

salam sahabat
berkunjung silaturrahmi

Post a Comment