Bakso Apa Mie Ayam?


Advertisement
Sepulang sekolah Bejo berjalan kaki menuju terminal bis yang jaraknya tidak begitu jauh dari sekolahan, dari terminal dia baru naik angkot untuk pulang menuju ke desanya. Seperti biasa dia langsung menuju warung bakso 'Lor Terminal' yang letaknya dipinggir terminal bis. Baru saja kepala Bejo kelihatan langsung disambut sapaan pak Karyo si penjual bakso. "Monggo mas" sapa pak Karyo.

Bejo: "Bakso satu pak lik" kata Bejo.

Pak Karyo: "Koq pulangnya awal banget mas?" tanya pak Karyo.

Bejo: "Tadi jam pelajaran terakhir kosong pak lik, gurunya berhalangan hadir".

Pak Karyo: "Oh, pantesan jam segini sudah pulang, biasanya langsung menuju ke mie ayam sebelah, ini koq tumben makan bakso mas?" tanya pak Karyo sambil menyodorkan semangkok bakso.

Bejo: "Bosan pak lik, tiap hari makan mie ayam. Kali ini gantian makan bakso".

Pak Karyo: "Iya sih mas, menu makan tiap hari kalau cuma monoton lama-lama bikin bosan juga. Sebenarnya saya juga sudah bosan mas, jadi penjual bakso. Tapi mau gimana lagi, belum ada pilihan pekerjaan yang lain".

Bejo: "Coba kalau di negeri ini memilih pekerjaan semudah milih mie ayam dan bakso ya pak lik, pasti kita bisa mencari pekerjaan yang sesuai dengan keahlian kita".

Pak Karyo: "Iya mas, yang jelas jumlah pengangguran akan berkurang, ijasah sarjana saya juga akan berguna" kata pak Karyo agak pelan, seperti bergumam pada dirinya sendiri.

Bejo: "Wah, sampean ini lulusan sarjana ya pak lik, baru tau kali ini saya".

Pak Karyo: "Sebenarnya cita-cita saya menjadi hakim mas, tapi karena terbentur keadaan ya akhirnya jadi penjual bakso, dan ijasah saya nganggur" kata pak Karyo sambil tertawa.

Bejo: "Berarti sia-sia ya pak lik, sekolah tinggi-tinggi akhirnya tidak berguna" kata Bejo sambil meletakkan buku pelajarannya diatas meja.

Pak Karyo: "Jangan berpikiran begitu mas, bagaimanapun ilmu itu penting untuk bekal kita hidup".

Bejo: "Iya juga sih pak lik, ya udah pak lik saya pulang dulu:" kata Bejo sambil membayar bakso.

Pak Karyo: "Oh, nambah lagi mas baksonya"

"Terimakasih pak lik, besok saja saya mampir kesini lagi" kata Bejo sambil bergegas keterminal karena ternyata angkutan umum yang menuju kedesanya sudah penuh.

Advertisement

{ 22 Comments... read them below or add one }

Agus Wahyudi said...

kalo sy sukanya bakso.. bisa sambil renang pake kuahnya..
ehehe

*ngawur.com

blogwalking said...

guru jaman sekarang suka telat gitu ya???

ingin tahu said...

mie ayam lor terminal emang ngangenin...!!!
sekarang masih ada gak ya????

genial said...

klu di terminal, yg kepikiran sama saiia bukan bakso, knp iia?!?!?!

Djangan Pakies said...

di negeri ini banyak orang yang menjalankan pekerjaannya jauh dari latar belakang pendidikan yang ditempuhnya. yang terpenting kerja dan memegang jabatan.
Sehingga tidak heran terkadang orang yang potensial seharusnya menjadi hakim malah menjadi tukan bakso, sedangkan yang potensial jadi Tukang bakso malah jadi hakim.
begimana mau maju ya Kang kalo profesionalisme di nomer 100 kan

ARaLL said...

wow,,pastinya aQ pilih dua2nya,,,sama2 enak,,hehehe

Catatan Kecil said...

jadi lapar neh,,,,hahaha,,,,enak tuh mie ayam.....

Catatan Cahaya said...

heheh laper...... aku mau bakso dunk hehhehe 2 porsi yah!!! hehehhe


hmm ijazahnya nganggur yah?? hehehhe sebenarnya rezeki-rezekian yah... karna mungkin dari awal tujuannya untuk dapaet pekerjaan jadi bukan ilmu yaNg di dapat, malah ijazah yang bertitle tinggi ... lagian juga di mata Allah gak berti hehhehe yg petng usahanya... wlaaupun tukang bakso yg petng bisa menjalani hidup dgn bersyukur...

hmmm jgn memandang remeh sebuah pekerjaan .. karna byak penganguran lHo!!

siti said...

"tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina"
kalau saya pribadi, menuntut ilmu tidaklah untuk mencari pekerjaan tapi karena memang benar2 ingin cari ilmunya. jadi tidak terbebani ijazah nganggur/tidak terpakai.
sarjana tidaklah untuk mencari kerja, tapi diharuskan untuk membuka lapangan pekerjaan, setidaknya memberikan lapangan pekerjaan untuk dirinya sendiri.

Belantara Indonesia said...

mengembalikan ingatan akan pentingnya hal yg di pandang sepele banyak orang...

beritaku said...

mungkin akan lebih baik si pak lik itu menjadi tukang bakso, dari pada benar bena rmenjadi hakim.hakim hakim di negeri ini kebanyakan bukan seorang pemegang amanah yang baik, tapi penjual amanah saja

Dwi said...

@ Agus Wahyudi: iya mas, memang bakso identik dengan kuahnya.. :D

@ Blogwalking: lagi ada kepentingan yang penting mas..

@ Djangan Pakies: iya juga Pak Ies, walaupun tentunya bukan semuanya begitu. :D

@ ARaLL: iya mas, bakso maupun mie ayam sama enaknya.. :D

@ Catatan Kecil: saya juga mau mas, mie ayamnya.. :D

Dwi said...

@ Catatan Cahaya: benar mbak, segalanya akan terasa nyaman kalau kita syukuri. masalah pengangguran kayaknya ga akan ada habisnya mbak, sayangi pekerjaan yang sudah ada itu lebih baik.. :D

@ Siti: benar mbak Siti, yang terpenting ilmunya, bukan ijasahnya. walaupun kadang untuk mendapatkan suatu pekerjaan juga diperlukan ijasah tertentu sebagai syaratnya.. :D
Setuju kalau sebuah title/sarjana itu bukan untuk mencari kerja tapi untuk menciptakan lapangan kerja, kalau bisa juga menolong bagi yg masih menganggur.

@ Belantara Indonesia: iya mas, jangan sampai kita memandang remeh orang hanya melihat dari pekerjaannya.

@ Beritaku: semoga saja tidak semua hakim seperti itu mas, alangkah buruknya hukum dinegeri ini jika memang demikian.

Dwi said...

@ Ingin tahu: masih ada ko, tahun kemarin aku pulang mampir kesana... :D

@ Genial: hayo mikirin apaan mas..?

al-wildan blog said...

ITULAH INDONESIA

Meutia Halida Khairani said...

hmm, Alhamdulillah saya dapat kerjaan yg sesuai dgn latar belakang saya kuliah dulu.. kasian ya sarjana hukum dagang bakso

Sukadi Brotoadmojo said...

Apapun pekerjaannya yang penting halal, sekolah itu bukan utuk mencari pekerjaan tapi mencari ilmu... karena orientasi sekolah itu untuk mencari pekerjaan makanya banyak yang nggak mementingkan ilmu tapi yang penting dapat ijasah atau lebih konyol lagi beli ijasah untuk bekerja hahaha...

*saya suka mie ayam bakso, Mas.. :)

syamsul rijal said...

jadi lapar ni mau makan bakso....

Bang NgangaN said...

rasanya memang tak jika banyak orang tua dipedalaman sana, yang menganggap bahwa pendidikan tak menjamin masadepan.MADESU alias masadepan suram tetap mengancam, hingga kini!

genial said...

"don't sweat the small stuffs" sepertinya gag berlaku di kisah ini :)

Script Share Button Facebook said...

akupun demikian, cuma beda profesi, beda jurusan dan beda alasan he he

hudaesce said...

sarjana dalam bidang hukum malah jadi tukang bakso, Huufttt...,ironis sekali.

Post a Comment