YANTI


Advertisement
Huuh.., kuhempaskan tubuhku di tempat duduk penumpang nomor 13A, sebenarnya aku mendapat tempat duduk nomor 12F, tapi berhubung ada nenek tua yang ingin duduk satu baris dengan kedua anaknya maka jadilah aku bertukar tempat duduk dengan nenek itu. Nggak apa-apa, pikirku, hitung-hitung menolong nenek, dari sini malah bisa melihat pemandangan di luar karena dekat jendela, walau pemandangannya cuma barisan awan-awan putih.

Hari ini aku pulang, setelah dua tahun meninggalkan tanah air. Mama.., papa.., anakmu pulang, tidak sabar aku berjumpa dengan mereka, dengan keluargaku, dengan temen-temenku, dengan Yanti, orang yang paling spesial di hatiku. Dua tahun sudah aku meninggalkan Yanti, aku masih ingat waktu itu Yanti mengantarku ke airport , dengan baju biru muda kesukaannya, sungguh cantik dan anggun, di tambah sinar mentari senja yang menambah kecantikannya. Dengan perasaan berat aku meninggalkannya, dengan sejuta harapan di hatiku untuk membahagiakannya kelak. Aku bertekad untuk memperbaiki kehidupanku dan mewujudkan cita-citaku bersamanya, sehingga jadilah aku berangkat ke Los Angeles untuk mewujudkan apa yang selama ini aku yakini dan pelajari. Meskipun banyak yang menentang, akhirnya aku jadi belajar di L.A, aku ingin menjadi nomor satu, bukan nomor dua atau tiga, akan kubuktikan kepada mereka bahwa apa yang selama ini aku yakini bukanlah omong kosong.

Akhirnya setelah dua tahun belajar di L.A lengkap sudah apa yang aku cari. Rencanaku setelah pulang nanti aku akan menikah dengan Yanti, sesuatu yang merupakan cita-cita kami berdua. Empat tahun bukan waktu yang sebentar untuk kami menjalani hubungan hingga akhirnya memutuskan untuk menikah di tahun ini, Desember 2010. Keluarga Yanti sudah menyetujui hubungan kami, demikian juga keluargaku. Aku rasa saat ini merupakan waktu yang tepat karena karirku sudah mulai stabil, jadi kami tidak akan kebingungan mencari nafkah saat menikah nanti.
"Mas, nanti kalau married ga usah pakai acara meriah ya." Yanti pernah bilang begitu padaku. Memang dia orangnya lebih suka sederhana dan apa adanya, itu salah satu yang aku suka darinya.
"Iya, ikut kamu aja deh.." jawabku, meskipun dalam hatiku sudah ada rencana memberinya surprise dalam acara pernikahan nanti. Rencananya aku akan mengadakan pesta pernikahan di salah satu hotel berbintang di Jakarta, mama dan papa juga sudah setuju, tanpa sepengetahuan Yanti tentunya.

"Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, di mohon untuk kembali ketempat duduk masing-masing dan mengenakan tali pinggang pengaman karena pesawat akan segera mendarat." Aku terkejut, tersadar dari lamunanku ketika mendengar instruksi bahwa pesawat sudah hampir mendarat. Tak terasa ternyata lama juga aku merenung tadi. Pesawat sampai di bandara Soekarno-Hatta Jakarta pukul 6.15 sore, dua puluh menit lebih awal dari yang di jadwalkan. Turun dari pesawat sesampai di pintu keluar aku di serbu para calo bandara dan sopir taksi.
"Pulang mana mas? mari saya antar." kata salah seorang calo sambil berusaha membawa koperku.
"Enggak pak, sudah ada yang jemput." jawabku.
Aku langsung menuju ke sebuah wartel untuk menelepon Yanti, "Yan, kamu di mana? aku sudah sampai nih."
"Oh ya mas, sudah aku tunggu di tempat parkir, emang turun di pintu mana mas?"
"Aku turun di pintu E2, ya udah aku tunggu disini ya." Agak berdebar-debar juga aku menunggu Yanti, sudah dua tahun aku tidak melihatnya, Yanti... aku rindu banget sama kamu.

Tidak lama kemudian kelihatan mobil Toyota Vios hitam yang di bawa Yanti. Yanti turun dengan senyum di bibirnya, sungguh cantik sekali. Mungkin akulah orang yang paling bahagia di dunia saat ini, pikirku. Sepanjang perjalanan tidak habis-habisnya aku dan Yanti bersenda-gurau, perjalanan masih cukup jauh karena rumahku di Cimanggis, Depok. Hari sudah mulai gelap, hmm.. lama juga aku tidak melihat Jakarta di waktu malam.
"Mas, dapat nggak pesananku?" tanya Yanti.
"Oh, lupa." jawabku berbohong.
"Tu, kaan.." Yanti cemberut manja, membuatku semakin gemes melihatnya.
"Iya ada.." jawabku akhirnya. Yanti seneng banget dengan bunga-bungaan, waktu aku di L.A, dia pesan oleh-oleh sejenis bunga hiasan yang terbuat dari plastik, yang daunnya bisa bergerak/bergoyang sendiri jika terkena sinar matahari, imut banget bentuknya. Dia mengetahui bunga itu dari internet, sempat bingung juga aku mencarinya, karena tidak tau nama hanya ada gambarnya saja.

Tak terasa perjalanan kami sudah sampai di jalan raya arah Bogor, seperti biasa di kawasan ini baik pagi maupun malam selalu macet. Setelah melewati kemacetan Yanti agak mempercepat mengemudi, maklum hari semakin malam dan kami juga tidak sabar ingin berjumpa dengan keluarga.

Tiba di jalanan yang agak menikung kami di kejutkan oleh benturan keras dari arah belakang mobil, Yanti kehilangan keseimbangan mengemudi, mobil yang kami naiki oleng kekanan, kejadian itu begitu cepat.., dari arah depan ada sebuah truk yang melaju begitu kencang ke arah kami..., Yanti menjerit, dan... semuanya menjadi gelap, aku tidak ingat apa-apa lagi.

Rasanya sudah begitu lama aku berada di dalam kegelapan itu, kegelapan yang sunyi dan tidak ada batas.., tidak ada orang, tidak ada siapapun. Seluruh tubuhku seperti kaku, tiba-tiba ada sebuah bayangan putih melintas melewatiku, seorang wanita dengan pakaian serba putih..., Yanti...!! Dia menoleh dan tersenyum ke arahku, tetapi wajahnya pucat, kemudian dia terus melangkah meninggalkanku. Aku ingin mengejarnya tetapi kakiku tidak dapat di gerakkan, aku memekik memanggilnya tapi tidak bersuara, kerongkonganku terasa kering. Aku hanya bisa tertegun melihatnya melangkah meeninggalkanku hingga akhirnya hilang di telan kegelapan itu.
                                                                ________________

Advertisement

{ 13 Comments... read them below or add one }

om rame said...

membaca ending kisah ini, sempat membuat buLu kuduk saya berdiri. begitu tragis, suLit memang bisa menerima suatu haL yang tidak diharapkan. tetapi apa boLeh buat, (mungkin) sudah kodrat untuk bisa menjaLani itu semua dan menerima dengan keLapangan dada.

Kholil Aziz said...

prinsip orang Madura kalo mo sukses harus merantau, karena dirantau banyak pelajaran, pengalaman, hal-hal baru, dan semacamnya.
tapi jangan lupa kampung halaman.

Fir'aun NgebLoG said...

so, nasib si yanti gimana tuch?!!!

yantiiiii.....!!!

pelintas batas said...

yah....., berakhir sedih nie.....

Sukadi Brotoadmojo said...

Maaf, ini kisah nyata atau hanya fiksi Mas?
Tidak dapat saya bayangkan betapa sedih perasaan yang ditinggalkan, 2 tahun berpisah, setelah bertemu hanya beberapa saat saja ternyata takdir berkata lain. Yah, saya tidak bisa berkata banyak, semoga saja kesedihan segera berakhir...

Dwi said...

@ sukadi brotoadmojo: cerita ini terinspirasi dari kisah nyata temenku mas..

ingin tahu said...

tragisss....kbahagiaan yg berujung petaka...

Sunnah dan Hadits said...

wah kui jenenge bojoku je lek,...wah,...wah,..ojo sek lek,....tp turut prihatin dengan cerita tadi,...

Dwi said...

@ Sunnah dan Hadits: ha ha.., opo iyo to den? jenenge bojomu ki yanti juga yo? salam wae go mbak yanti..

Sang Cerpenis bercerita said...

duh, tragis banget

Junaedi said...

Sebelum berangkat keluar dari rumah jangan lupa membaca doa selamat ya

Dwi said...

@ all: thanks dah berkunjung ya.

Djogja Journey said...

ceritanya beda sama yg pipit itu

Post a Comment